Minggu, Februari 05, 2012

petualangan 7 bln di Bali


Petualanganku untuk keluar kota akhirnya terlaksana juga, alhamdulilah ya... sesuatu banget gitu loh.... Walau hanya berumur 7 bulan tp aku tetep bersyukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan. There's so many experiences yang kudapat dari perjalananku ke Pulau Bali.

Cerita berawal dari bulan September tahun 2010, setelah musim kompetisi ISL thn lalu aku berhenti bekerja dari warnet dan emang sudah niatku untuk pergi dari rumah. Bali menjadi tempat yang kupilih untuk mengadu nasib..... and the story begin.....

20 September 2010, seminggu setelah lebaran aku berangkat menuju Pulau Dewata dengan naik bus Santoso tiket waktu itu masih lumayan mahal Rp 150.000 normalnya sih klo naik yg eksekutif Rp 100.000 an. Berbekal baju ala kadarnya dan seorang teman bernama Indah yang dengan baik hatinya mau menampung aku untuk sementara di sana. Berangkat dari terminal Arjosari waktu senja sekitar jam setengah 6 petang dan nyampai menjejak terminal Ubung waktu pagi. Saat itu aku di sambut dengan langit kelabu dan hujan rintik, blank gag tau mau kemana... nunggu Indah di Alfamart depan terminal Ubung ngentang 1 jam an menunggu jemputan. Hari pertama masih adaptasi sama keadaan di sekitar, kampung rumah Indah kebanyakan di huni oleh keluarga pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa dan kebanyakan adalah Aremania, berasa hidup di kampung halaman. Diajak jajan makanan khas dari Bali yaitu Rujak Kuah Pindang, huwekkk rasanya aneh dan aku gag doyan.

Rencana awal yaitu hunting pekerjaan, kurang dari 2 minggu stay di Bali alhamdulilah aku sudah dpt pekerjaan. Berbekal koran Bali Post yang kubeli tiap hari, semua lowongan yang kira kira sesuai skill aku masukin semua. Beruntungnya lagi si Indah waktu itu masih kerja di Warnet, so buat ngetik lamaran sama ngeprint jadi lebih mudah. Klo gag salah waktu itu ada 3 panggilan kerja, prepare for interviuw. Beuh masih kagok blum tau jalanan di Denpasar dan Kuta tapi harus klayapan sendirian, thx buat mas Suga bululawang atas pinjeman sepeda motornya.

Awal Oktober dapat panggilan lagi kali ini di Restoran di Kuta Legian namanya Barreta Green Park, interviuw langsung kerja. Huwow langsung saja aku terima daripada nganggur, jadi admin pembelian. Masih blank layaknya seorang bayi yang baru belajar berjalan aku tertatih menghadapi pekerjaan berat ini. Tapi alhamdulilah semua itu berhasil ku lewati berkat kesabaran dan teman teman di sana. Begitu berat cobaan yang kuhadapi, hidup di perantauan emang tak mudah. Sepi sendiri dan harus mandiri. Kerja di sana itu enak karena kerjanya nyantai cuma bikin laporan ke owner dan melengkapi kebutuhan dapur dan bar. Ada sesuatu yang gag beres di Restoranku ini tapi aku males cerita hehe. Letak tempat kerjaku ini sangat strategis sekali lo.... berjarak hanya 50 meter dari Monumen Bom Bali, tepat di depan Sky Garden, diapit oleh Engine Room dan Bank Danamon, di depan juga ada Apache Bar yang menyetel lagu2 Reggae, sebelahnya lagi udah jalan Poppies 2 yang tembus ke Pantai Kuta.

Hidupku hanya ada di rumah Indah dan tempat kerja, continue terus sampai bosan. Senangnya waktu itu di kenalin sama anak2 club YMCI dan alhamdulilah dapat kesempatan di ajak touring. Gunung Batur, bedugul malem2 dan ke Gunung Ijen Banyuwangi sudah kulalui bersama mereka, malam Rabu dan malam Minggu selalu berkumpul di depan sebuah ruko di jl. Teuku Umar just kongkow dan makan nasi jinggo. Terima kasih buat keluarga besar YMCI denpasar yang mau menerimaku menjadi dulurmu. Dan tak lupa tiap malam minggu malem di depan RS Sanglah tepatnya di kolam ibu susu anak anak skinhead dps juga berkumpul berkenalan dengan anak2 The Resistance, Rany , mas heri, mas keceng, mas2 Mad Brothers dll. Pertemanan yang mbuled telah di jalin malang denpasar tiada berjarak.

Memasuki bulan November dan Desember, Barreta seakan menyita banyak waktuku. Berangkat pagi pulang malam, begitu banyak acara yang di gelar utk menyambut Natal dan Tahun Baru. Saingan acara antara Bar di kanan kiri.... Alhamdulilah penjualan juga mengalami peningkatan, yang artinya pekerjaanku juga semakin berat. Mensuplay ketersediaan bahan makanan dan minuman. Untungnya aku gag doyan minum, beer bintang berkrat krat, Heinneken bertabung tabung, dan berbotol botol minuman beralkohol dengan berbagai jenis merek tertata rapi di gudang yang kuncinya aku pegang. Paling males kalo udah akhir bulan mesti check stock barang yang seabrek sendirian pula T.T pyufh. Hampir semua waktuku kuhabiskan di kantor, pulang hanya utk tidur. Capek juga ternyata Ubung - Kuta - Ubung - Kuta terus, klo naik motor sekitar 30menit itu klo jalanan lancar. Gara gara kesibukan masing masing hubunganku dengan Indah sedikit renggang, sungkan juga lama2 nebeng di rumahnya, akhirnya kuputuskan buat cari kos-kosan sendiri, biar bisa lebih mandiri, punya privasi dan jarak ke tempat kerja jd sdikit deket..

Januari adalah bulan di mana aku resmi menjadi anak kost. Thx to Mamet driver di Barreta yang mau mencarikan aku kosan. Kosan di Jl. Letda Made Putra deket lapangan puputan Badung, tak jauh dari Tiara Dewata dan dekat dengan lapangan Renon, tepat di tengah kota. Biaya ngekos hanya Rp 350.000 itu sdh kamar mandi dalem, tempatnya luas, bangunannya baru dan bersih tapi belum termasuk bayar Listrik lo. Dan yang paling enak adalah tetangga kosan yang ramah dan sdh seperti keluarga sendiri ada mb Sugik, mb Septi, Bu rama dan anaknya Romi yg lucu. Ngumpulin barang2 di kost yang seadanya di bantu sama Kak Heri cah skinhead Jogja yg sdg bekerja jd kontraktor pembangunan salah satu hotel di Dps. Kak He ini lucu sekali, kalo ngomong logat jowo daerah nya kentel banget, kebetulan dia anak tunggal dan gang punya adek, so jadilah aku adek angkatnya hahaha Alhamdulilah masku bertambah siji. Aku baru tahu keadaan di rumah Malang, kata Ibuk Dedy kerja di pelayaran, otomatis di rumah Ibuk dan Bapak sendirian aja di rumah. Kondisi Bapak masih sehat saat itu hanya saja katanya tangan kanan nya gag bisa di gerakin lumpuh separoh akibat stroke. Januari akhir aku pulang ke Malang tapi sebelum itu aku mampir ke acara Moods For Ska #2 di Surabaya. Berangkat bersama anak2 Metromini Singaraja dan mas Handi, terima kasih tumpangannya teman teman. Di malang gag ada sehari langsung balik ke Bali lagi..... capeknya tiada tara.

Februari bulan penuh cinta, jalan Legian penuh dengan nuansa pink lope lope Restoku juga tak mau ketinggalan. Bulan ini adalah awal perkenalanku dengan mas Indra ^oo^ berawal dari fesbuk pertemanan yang mbuled temannya teman e temanku. Pertamanya rada gag ngrewes, ketus judes cuek dan biasa biasa saja tapi lama lama ada "sesuatu" yang membuatku tertarik sama dia. Ngganteng enggak sogeh enggak tapi dia pintar dan pengetahuannya banyak, enak kalo diajak ngobrol nyambung laris manis tanjong kempol. Tak ada kata2 romantis tak ada ajakan tak ada penembakan dia hanya bercerita tentang kehidupan teman2nya di Kampung Gadang dan  its all about music Owh mai gad aku sudah kepincut. Hidupku tak pernah sepi semenjak ada dia, pulang kantor malam sebelum tidur selalu ada Siaran Radio Monyet ngobrol ngalor ngidul sampai tengah malem atau sampai dini hari. Februari akhir aku gregetan, yess i decide and i choose him buat tak jadiin my boyfriend. God pertama kalinya dalam hidup ku, aku punya pacar plis dong deh. Februari akhir dapat kabar dari Ibuk bahwa Bapak masuk RS Soepraoen dan dirawat disana, aku bingung mau pulang tapi gag ada libur.

5 Maret 2011 tanggal merah Hari Raya Nyepi, alhamdulilah aku bisa pulang saat itu, Bali sepi waktu Nyepi. Sebelum pulang aku titip 2 botol arak bambu ke mas Indra, malam sebelum berangkat dia datang ke kosan. Itu adalah saat pertama kali aku melihat sosoknya, lelaki berkatok kempol berkaos extreeme decay dan memakai helm berjalan malu malu mendekat, pertemuan yang singkat namun sarat kenangan. I'm falling in love with him. Alhamdulilah pulang ke Malang dapat tunutan dari keluarganya bu Yayuk, kebetulan keluarga besar beliau jtga mau mudik ke Gondanglegi. Suaminya bu Yayuk adalah seorang berwarga-kenegaraan Italia, naik mobil Avanza ke Jawa lewat jalur selatan. Stay di rumah selama 2 hari, tangan Bapak aboh dan semakin gag bisa di gerakkan. Gak tega melihat Ibuk kelimpungan ngurusin Bapak sendirian, tapi mau bagaimana lagi. Saat itu juga di rumah lagi repot ngurusin Bapak yang mau pensiun dan rumah di Panjen yang mau di bongkar. Bapak hanya ingin segera pulang ke rumah Panjen dan hidup tenang di sana. Semenjak kenal sama yang namanya mas Indra aka Moenyet ini telepon gag pernah putus selama 3 bln, selalu ada aja yang di obrolin saat tlpn. Kembali ke rutinitasku untuk bekerja di Bali dan kembali ke pangeran Moenyetku utk lebih memahaminya lebih dalam lagi.

Maret - April 2011 kisah cintaku sedang hangat hangatnya layaknya tai kucing rasa coklat, begitu pula dengan Resto tempatku bekerja. Aku sudah mulai tertekan bekerja di sana, sudah tidak kuat lagi rasanya. Teman teman seperjuangan di Resto juga merasa kalo ada yang gag beres disana tapi mereka bisa apa yang di lakukan hanya menunggu. Kesabaran orang juga ada batasnya surat Resign sudah ku layangkan ke owner tapi masih gag boleh resign hufttt. Dalam sebulan pacaran ketemuan tatap muka cuman 4 kali, seminggu sekali ketemu tiap hari telpon2an itu juga sudah cukup membuatku senang. Mas Indra ini kurus tapi badannya dempal, sukaknya lagu HC berbeda 180 derajat dengan aku, perbedaan ini mungkin yang membuat kita saling melengkapi.

Akhir bulan April dan tepat memasuki tanggal 1 Mei 2011, kami berencana utk pergi berjalan jalan keluar. Pagi hari di hari Minggu mas Indra sudah ada di kosan, HPku berbunyi dan Ibuk memberiku kabar yang sangat mengejutkan dan bahkan membuatku shock setengah mati, kabar buruk di pagi hari yang memberitahukan bahwa Bapak telah berpulang ke pangkuan sang Kuasa Subuh dini hari tadi. Aku lemas tak berdaya di pelukan mas Indra, air mata tak kuat kubendung kubenamkan wajahku di pundak mas Indra. Aku bingung, dunia ku berputar putar sesaat yang lalu aku merasa begitu bahagia sekali seakan melayang layang namun aku seperti jatuh terhempas dari langit makbruwooookkk ketika mendengar kabar itu. Bingung mau pulang ke Malang, gajian masih hari Senin esok uang menipis ku putuskan utk pulang nanti sore   naik bus. Beruntung owner mau mengerti dan aku boleh mengambil gajiku dari uang penjualan kemaren. Aku kehilangan arah seperti orang bingung yang plonga plongo. Selama seminggu bolak balik Mlg - Dps 2 kali capekkk dan akhirnya aku mengemasi barangku utk meninggalkan Bali. Slamat tinggal Barreta slamat tinggal kos kosan selamat tinggal Pulau Dewata suatu saat aku akan kembali karena cintaku masih tertinggal disana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak