Senin, Agustus 02, 2010

Road to Gunung Ciremai 3027 mdpl

Rabu, 21 Juli 2010

Hari itu berangkat menuju kota Cirebon, janjian bersama Nindya si cipret ketemu di
stasiun Kota Baru naik Matarmaja jam 3 sore tet sepur sudah berangkat tut tut gujes
gujes. Harga tiket dari Malang ke Cirebon Prujakan cuman Rp. 41.500,-
Rencana besok nyampe Cirebon di jemput sama mas Ashar. Perjalanan panjang menuju barat
ane habiskan dengan tidur hehe

Kamis, 22 Juli 2010

Kupandang langit keluar melalui kaca jendela kereta, matahari sudah menampakkan dirinya
sudah pagi kurasa. Stasiun Cirebon Prujakan tepat pukul 7 pagi kami turun. Yahh masi pagi inih.... Keleleran di stasiun menunggu di jemput sama mas Ashar. Pagi itu sarapan nasi Jamblang, nasi campur yang dibungkus sama daun jati. Walau porsinya sedikit tapi tak apalah buat mengganjal perut yang dari kemaren suda keroncongan ndangdhutan ajojing.

Setelah repacking barang2nya mas Ashar kami berangkat naek angkutan G5 menuju Terminal Harjamukti, biayanya Rp. 3000,- per orang. Dari Terminal langsung naek kendaraan Elf arah Kuningan. Turun di pertigaan jalan Linggarjati, bisa juga sih turun di pasar Cilimus, biayanya antara Rp.4000 - Rp.7000 pokoknya harus pinter tawar menawar harga deh. Setelah itu oper naek mikrolet kuning turun di Gedung Perjanjian Linggarjati sekali lagi ane ingetin kita kudu pinter pinter nawar harga, untunglah ada mas Ashar. Naek angkot kuning cukup bayar Rp. 2000 per orang. Jarak antara pos perijinan dengan gedung
perjanjian kurang lebih 200 meter. Sambil menunggu datangnya sodara Andri alias Jambul
dari Jakarta kami mengurusi perijinan. Biaya beli tiket masuk di loket seharga Rp. 6500
per orang. Disamping pos perijinan ada Warung Pak Saman, kita istirahat sejenak sembari
menunggu datangnya si Jambul. Waktu di sana banyak masyarakat sedang mengeringkan hasil
bumi mereka berupa kopi dan cengkeh.



Cari cari info tentang pos mana saja yang musti dilewati, ini dia urutannya beserta
sedikit mitos tentang penamaannya (berdasarkan pengamatan ane dan info di bbrp situs)
1. Pos Linggarjati
Pos pertama buat ngurusi perijinan dan tetek bengeknya, kalo mau mendaki gunung
jangan lupa ijin, bayar retribusi dan catat nama kalian di buku tamu.

2. Pos Cibunar
Di pos ini banyak terdapat pondok pondok warung, biasanya buka waktu weekend ato
pas musim pendakian. Sayang waktu ane kesana yang buka cuman 1 pondok, lumayanlah
bisa nunut di masakin mie rebus sama si ibuk. Di Cibunar terdapat sumber air, ini
adalah pos buat ngisi persediaan air terakhir karena bakalan gag akan ada lagi sumber
air di atas sana.

3. Leuwing Datar
Hmm ada apa ya di Leuwing Datar, mungkin ketemu ladang pisang di kiri jalan dan pohon
pinus di kanan. Jalannya sedikit tidak terlalu terjal ini mungkin mengapa dinamakan
Leuwing Datar hehe

4. Condang Amis
Ini tempat camp pertama ane, tempatnya nyaman dikelilingi pohon yang beraneka ragam.
Ada Pohon Beringin menjulang tinggi, ada batang pohon ambruk yang kelihatan seperti
sedang berjabat tangan. Disini teman ane ngrasain kalo pas malam hari waktu masang
tenda dia berasa ada yang menyebul telinganya dari belakang. Untung bukan ane yang
disebul.

5. Kuburan Kuda
Konon ceritanya di sana ada kuburan kuda milik tentara Jepang. Kuda tersebut,
biasa dipergunakan oleh para kempetai untuk mengontrol para pekerja rodi yang menanam
kopi. Kuburan yang terletak di sebelah barat jalur pendakian, sampai sekarang
masih ada dan dikeramatkan oleh penduduk setempat. Sayang ane gag sempat mengeksplor
letak kuburan kuda tersebut Y.Y

6. Pangalap
Menuju pos Pangalap tanjakannya benar2 bikin orang kalap dah. Jalan menanjak tiada tara

7. Tanjakan Seruni
Masi sama dengan pangalap menanjak tiada tara, tempatnya enak buat ngecamp. Jalur
pendakiannya melewati hutan brukut.

8. Bapa Tere
Konon ceritanya di Bapa Tere pernah ada seorang bapak tiri membawa anaknya mendaki
G. Ceremai nah sesampainya di sini si Bapak menikam anaknya hingga tewas. That's why
di sana dinamakan bapak tere.

9. Batu Lingga
Masyarakat kaki gunung Ciremai sangat menyakralkan tempat ini, di sini terdapat sebuah
batu yang konon dahulu digunakan oleh Wali untuk berkhotbah ke pengikutnya. Disini
juga terdapat batu In Memoriam milik 2 orang pendaki yang telah tewas. Menurut kisah
pendaki itu tewas karena sesuatu yang aneh di batulingga. Tepatnya, pada tahun 1999
dan dari ketiga pendaki, hanya seorang yang selamat. Sedangkan dua lainnya tewas
dengan mengeluarkan lendir dari mulutnya. Menurut kepercayaan, blok batu lingga ini
di jaga oleh dua makluk halus bernama aki dan nini serentet buntet.

10.Sanggabuana I dan II
Jalan berbatu dan sedikit curam, hawa mulai terasa dingin menusuk. Sanggabuana artinya
penyangga bumi areal ini berfungsi untuk menahan aliran lahar bila gunung Ceremai
meletus.

11.Pangasinan
Disini merupakan pos terakhir sebelum sampai di puncak, tempatnya terbuka. Dari atas
bisa melihat pemandangan kota Cirebon dan garis pantai. Hawanya dwingin banget dah.
Banyak ditumbuhi tanaman perdu, bunga edelweiss tumbuh subur disini. Ketinggian tempat
ini sejajar dengan Gunung Slamet di Jateng. Menurut sejarah, pada masa pendudukan
Jepang, pengasinan merupakan tempat pembuangan tawanan perang. Mungkin karena itu
pada malam malam tertentu, sering terdengar suara jeritan atau derap langkah kaki
para serdadu jepang.

12.Puncak Panglongokan
Tebing batu dengan sedikit tempat untuk berpijak. Banyak burung berbulu hitam berparuh
kuning bertengger di bebatuan. Tanaman mentigi juga banyak di tempat ini.

Yah itulah sedikit ulasan mengenai pos pos yang ada di Jalur Linggarjati. Yuk kita lanjut
perjalanan ane lagi.......

Tepat tengah hari ane, Nindya sama mas Ashar melanjutkan perjalanan ke pos Cibunar sembari
menunggu kedatangan sodara Jambul yang tak kunjung datang. Cukup lama beristirahat disini
Untunglah ada si Ibuk yang membuka warung di pondoknya. Istirahat makan siang, ngisi air
sampe sempet tidur siang pula di Cibunar. Mas Ashar turun menjemput si Jambul di pos
perijinan. Disini dapat petuah petuah dari si Ibuk, katanya kalo cewe lagi Mens dilarang
naek, pernah ada kejadian katanya si cewe berasa di sesatin dan jalan muter2 di situ2 aja.
nah si Nindya tau cerita kyk gitu langsung mandi besar buat mensucikan diri, maklum dia
g sempet mandi besar waktu sebelum brangkat. Si Ibuk juga cerita untuk tidak ngecamp di
Batu Lingga. Sembari menunggu ane sempetin aj buang hajat, daripada kerepotan waktu di
atas sana blaen lak an hahaha. Jambul datang bersama mas Ashar kira-kira sore jam setengah
5 an. Di pos Cibunar ketemu 2 orang pendaki yang baru turun, dan ternyata masi ada 4 pendaki
lagi yang lagi otw turun.

Selepas magrib kami memulai perjalan, di bekali senter oleh pendaki yang turun tadi. Mereka
berpesan untuk memberikan senter tersebut ke rekan2nya kalo ketemu. I hate munggah bengi.
ngok ngok oink oink berasa jadi babi aja jalannya nunduk terus. Kanan kiri gelap gulita
sedikit diterangi cahaya bulan. Sempet bingung pula waktu di tengah ladang, untung ketemu
4 pendaki yang turun. Kesempatan buat tanya2 kondisi jalan di depan biar gag tersesat.
Setelah bercakap2 sambil berbagi rokok tak lupa menyerahkan senter titipan kamipun melanjutkan perjalanan. Nyampe Kondang Amis kira kira pukul 10 malam. Badan sudah terasa lelah lapar pula. Ane sama mas Ashar mendirikan tenda sedang Nindya sama Jambul masak makan malam dengan menu standar nasi, emie dan sardine. Dan tak lupa masak agar2 buat sarapan besok. Badan capek jadi g sempet api unggunan lama-lama. Selesai makan malam ane langsung masuk sleeping bag. (cerita sepulang mendaki waktu di kereta; mas Ashar mengaku kalo pas malem waktu mendirikan tenda dia berasa di sebul telinganya oleh seseorang. That's why mengapa dia g berlama lama waktu buat api unggun dan langung berinisiatif buat masuk tenda)

Jumat, 23 Juli 2010

Dini hari terdengar suara hujan turun tapi anehnya kok g berasa ada air yang jatuh.
Eh ternyata itu hanyalah suara angin yang menggesek dedaunan. Suaranya benar2 memekakkan telinga. Saking capeknya sampai tak kuhiraukan suara itu. Tidur paling nyaman ya disini ini menurutku, udaranya hangat g berasa kedinginan. Pagi menjelang, matahari menampakkan kemilau cahaya kuningnya. Saatnya untuk bangun dan bersiap-siap, pagi itu sarapan roti + susu dan tak lupa agar-agar. Jam 8 tet kami melanjutkan perjalanan. Pyufh jalannya menanjak tiada tara Kuburan kuda - Pangalap - Tanjakan Seruni - Bapa Tere hajar bleh!!! Menjelang siang perut terasa keroncongan ndangdhutan, kami berhenti di tempat yang leter di atas pos Bapa Tere. Mulai memasak emie + telur (hadeee menune emie emie dan emie tiap hari). Keadaan sudah mulai terasa dingin, hanya sedikit cahaya matahari yang bisa sampai menembus rimbunnya hutan G. Ciremai. Sembari menunggu makan siang kami sempet2in buat sun bathing dan menjemur pakaian yang basah karna keringat.

Selesai makan siang kami pun melanjutkan perjalanan. Ane nyampe pos Batu Lingga duluan,
menurut cerita2 ini adalah pos paling di keramatkan oleh masyarakat. Dari site yang ane
baca juga gag disarankan buat ngecamp di sini, tapi ane liat liat tempatnya biasa aja tuh.
Ternyata setelah ane sempetin jalan melihat lihat ada batu In Memoriam di sana. Diletakkan
di bawah pohon, ada bunga edelweis dan air minum di atasnya (mungkin sesajen dari para
pendaki) Ane sempetin buat kirim doa di atas batu tersebut. Tak lama kemudian teman2 di
belakang sampai di Batu Lingga, perjalanan kami lanjutkan karena kurang 3 pos lagi nyampe
di Pengasinan. Medan di atas sudah mulai sedikit berubah, jalannya menanjak berupa batu -
batu besar. Sekitar mau magrib kami nyampe di pos Pengasinan. Tempatnya terbuka banyak
ditumbuhi tanaman perdu dan bunga edelweiss tumbuh subur di tempat ini. Dari Pos Pengasinan kita bisa melihat keindahan kota Cirebon, garis pantai Laut Jawa, puncak gunung Slamet di Jateng dll. Satu yang gag tak sukai dari tempat ini adalah hawanya yang dwingin banget. Mas Ashar dan Jambul membuat api unggun untuk menghangatkan badan, sementara nindya membuat makan malam menunya tetep emie lagi, lagi lagi emie, emie never die lah hahaha emie + sardines Baru jam 9 malam kami semua sudah masuk ke tenda dan bergelung dengan sleeping bag. Di dalam tenda pada grusak grusuk g bisa tidur saking dinginnya. Hawa dingin bagai menusuk tulang menembus sukma. Peredaran darah di kaki kiri ane sempet beku mati rasa, untunglah setelah sedikit diberi pijatan dan di oles counter pain sudah normal kembali. Benar2 g bisa tidur nyenyak Y.Y baru sekitar dini hari mungkin jam 2 an semua pada tidur.

Sabtu, 24 Juli 2010

Jam setengah 5 pagi Jambul bangun dari tidurnya, disusul Nindya. Mereka berencana mau muncak, tapi berhubung Nindya gag kuat dengan hawa dinginnya jadilah dia mengurungkan niatnya. Ane yang semula g berhasrat buat muncak pagi-pagi tapi setelah dipikir-pikir udah nyampe sini juga eman lek g muncak pagi pagi ngejar summit attack. Akhirnya ane sama Jambul berangkat jam 5, di luar masi gelap jadi berjalan sambil bawa senter dah. Nyampe puncak Panglongokan jam 05.45 matahari belum terbit sepenuhnya,untunglah masi bisa terkejar. Subhanallah ku ucapkan rasa kagumku untuk pemandangan yang kulihat di depan mata. Alam membentuk suatu kesatuan yang indah, semburat sinar mentari yang baru merekah membuat lukisan warna di birunya langit. This is sunrise.
Aku berdiri menghadap mentari, dibelakangku terbentang kawah putih yang menyeruk ke bawah. Inilah aku yang berdiri di ketinggian 3.027 mdpl di atas puncak tertinggi di Jawa Barat,
Gunung Ceremai jalur Linggarjati kau sudah kudaki.

Burung berbulu hitam perparuh kuning tak malu malu untuk mendekat, oh ini mungkin burung
yang diceritakan pak Johan. Burung ini akan menuntun pendaki untuk sampai di puncak. Beruntung karena masi pagi jadi bau belerang tak begitu menyengat. Tak lupa mengabadikan moment hehe si Jambul ane jadiin model dadakan jadi bahan experiment hehe. Pukul setengah 7 pagi setelah puas menikmati keindahan dari puncak ane dan Jambul memutuskan turun. Butuh waktu 15 menit buat Jambul utk turun sedangkan ane butuh 30 menit, maklum dengkul ane rada g beres jadi g bisa buat turun cepet cepet. Jam tujuh ane nyampe di pengasinan, Nindya dan mas Ashar sudah bangun dan sudah mulai membuat sarapan. Selesai makan kami packing dan bersiap untuk turun. Rencananya mas Ashar, Nindya dan Jambul mau muncak, berhubung ane sudah capek dan g mau naik lagi ane mutusin buat turun duluan dan menunggu mereka di pos Sanggabuana II. Lama banget nunggu mereka turun sampe ketiduran di bawah pohon. Lebih banyak waktu kuhabiskan sendirian menunggu mereka, ini adalah pendakian paling nyantai yang pernah tak lakuin, biasanya kalau sama mas mas wartel stetsa jalan kaki selalu di target. Mungkin 2 jam aku menunggu, mereka datang
tepat tengah hari. Istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan turun gas pol rem blong...
Di tengah jalan mas Ashar kakinya keseleo dan g bisa jalan cepet. Jambul turun duluan buat
menaruh tas carriernya di Kondang Amis dan balik ke atas lagi buat nyusul mbawain tas nya
mas Ashar. Perjalanan turun pada kepisah semua, yang kutau pokoknya harus kumpul di Kondang Amis. Ya sudah ane ngebut biar bisa nyampe sana dan menunggu mereka. Lagi lagi menunggu dalam kesendirian, matahari sore sudah mulai bersembunyi di balik gunung. Hawa dingin mulai menyelimuti. Sedikit merinding disini tapi aku cuek aja, i dont know what i must do so tak tinggal turu ae. Mbeber koran buat tidur kupaksa memejamkan mata kuhiraukan suara suara bergemerisik di sekitar kucoba positif thinking dan aku tak mau berhalusinasi memikirkan hal yang macam - macam. Bakalan nyampe cibunar malam ini.

Setelah semua berkumpul di Kondang Amis dibagi 2 tim, ane sama Jambul jalan duluan mbawain tasnya mas Ashar sementara Nindya nemenin mas Ashar jalan di belakang. Busyeed kuat juga si jambul suda keceng bawa 2 tas carrier sandal jepitan pula, salut buat tenaga kudanya. Hari mulai gelap, berhubung Nindya dan ms Ashar g bawa senter, ane menunggu mereka untuk menyerahkan headlamp milik Jambul. Cahaya bulan bersinar dengan indahnya menerangi jalan kami. Jarak antara tim 1 dan tim 2 ternyata jauh. Waktu akan mendekati pos Cibunar, terdengar teriakan memanggil namaku dan Andrie (jambul) ada apa gerangan di atas sana? ane tiup peluit kencang kencang untuk memberi tanda keberadaan kami di bawah, tak ada tanggapan dari yang di atas. Ya sudah ane lanjutin aja aja perjalanan turun. Eh teriakan itu terdengar lagi meraung raung, membuat kami merasa cemas ada apa ini dengan Nindya dan ms Ashar??? Pos Cibunar tinggal selangkah lagi jadi ane dan Jambul memutuskan untuk dulu menaruh barang di Cibunar dan berharap teman teman e mas Ashar yang dari Cirebon ada disana. Untunglah mereka ada, thx god! ane kasi tau kalau mas Ashar kakinya keseleo, dengan sigap mas Yubi dan mas Deni menyusul ke atas. Alhamdulilah sampai juga di pos Cibunar, disana sudah ada mbak Dewi dan (mas aku lali jenenge). Selang beberapa menit Nindya datang bersama mas Deny lalu tak berapa lama kemudian disusul mas Ashar dengan mas Yubi. "Haduuu enggak lagi lagi
dah!" kata yang sering di ucapkan ms Ashar. Malam ini istirahat di pondok, api unggunan makan
pisang dari kebon milik orang, kentang rebus, pohong bakar, makanan melimpah disini. Nyamuk
di pondok peristirahatan huwakeh e gag lumrah. Menghabiskan malam dengan diterangi cahaya bulan dan cerita ngocol dari ms Yubi yang tak henti hentinya membuat semua orang tertawa ngakak.


Minggu, 25 Juli 2010

Pagi hari di Cibunar, it's time for us to ngalup nang malang. Jam 8 kami turun ke pos perijinan
Linggarjati untuk laporan bahwa kami sudah sampai dengan selamat. Karena lapar dan g sempet sarapan kami mampir ke RM. Sate Simpang Tiga di jalan raya Beber - Cirebon. Makan lesehan mengenyangkan perut dengan menu nasi, sate, sop ayam, pepes ikan mas dan es jeruk. Trima kasih buat mbak Dewi atas makan gratisnya hehee ^.^
Selesai makan kami berpisah dengan Andrie jambul karena dia mau balik ke Jakarta. Gudbye myprend next time kita pasti ketemu lagi. Berhubung kereta Matarmaja baru akan tiba di stasiun Cirebon Prujakan jam 17.37 kami istirahat di rumah mas Yubi. Nyampe rumah mas Yubi langsung minta ijin buat mandi dan bersih-bersih, segerrr slese mandi ganti baju bersih langsung tidur. Lumayan bisa tidur nyenyak sampe ngiler2 selama 1 jam. Bangun tidur disuruh makan sama ibuknya mas Yubi.
Jam 5 tet pamitan sama orang rumah, naek becak menuju stasiun Prujakan. Berpisah dengan mas Yubi dan mbak Dewi, terima kasih buat semuanya mas e mbak e......
Tiket duduk kereta Matarmaja sudah habis, nambah Rp 5.000,- buat dpt tiket duduk, Dapat tempat di gerbong restorasi, alhamdulilah akhirnya bisa ndekek bokong juga ^.^ kaki kaku serba salah. Perjalanan pulang naek kereta ane habiskan dengan tidur.
Y.Y g sempet beli oleh-oleh khas cirebon (trasi krupuk udang dll) next time i will be back!

Senin, 26 Juli 2010

Pagi jam 9 akhirnya sampai juga di kota Malang. Menyenangkan bisa menghabiskan waktu beberapa hari bersama kalian guys. Thx for share ur experience with me.

destination Ciremai Mount DONE!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan jejak