Kamis, Maret 02, 2017

#djombike | Trek Remek Kelilingi Gunung Geger Pagak


Google Map! entah kenapa saya suka sekali dengan aplikasi yang satu ini. 2016 bisa dibilang saya minim banget jalan-jalan atau sekedar menjelajah suatu daerah. Ada banyak alasan yang membuat saya harus rela 'hidup di gua' selama setahun penuh. Year of misery, yep saya harus kehilangan ibu untuk selama-lamanya karena penyakit kanker serviks. Yaelah jadi sedikit curhat deh jadinya. But life must goes on, saya harus move on dan bangkit.

Selamat datang hari Minggu, pagi ini saya berencana sepedaan ke sebuah tempat yang sudah lama saya lihat keberadaanya di Google Map. Jika dilihat dari citra satelit, tempat tersebut tak jauh dari Dempok. Iseng aja jalan berbekal rute yang sudah saya pelajari malam harinya sebelum tidur.

Alhamdulillah tahun 2016 lalu saya sudah bisa upgrade sepeda dari MTB Pacific yg cranknya selalu bunyi kriet kriet menjadi Thrill Ravage 5.0. Sejak beli baru sepeda ini paling cuma beberapa kali saya ajak jalan ke rute panjang. Rute Malang - Tumpang ( Coban Cinde ) yang gagal, Rute Kepanjen - Gondanglegi - Malang dan seringnya rute menuju kantor Panjen - Araya lurus aja. Selebihnya sepeda ini nganggur parkir di rumah menunggu si empunya ngajak jalan.

Pagi itu kabut masih menyelimuti desa Kemiri, saya kayuh sepeda menuju Desa Pagelaran Gondanglegi melewati Jembatan Aviat yang baru diresmikan Rendra Krisna di akhir tahun 2015. Jembatan penghubung Kepanjen - Gondanglegi ini awalnya adalah jalur trem di zaman penjajahan Belanda yang digunakan untuk mengangkut tebu. Masih dulu sekitar tahun 90an ( saat saya masih kecil ), jembatan ini sempat putus lalu warga membangun jembatan gantung yg bagian bawahnya adalah papan. Saya masih ingat bagaimana rasanya melintas di atas jembatan gantung tersebut. Bunyi gradak gradak yang khas dan sedikit goyangan sebelum sampai di akhir jembatan. I miss that moment. Sekarang jembatannya sudah bagus, bahkan kalau sore jadi tempat nongkrong muda-mudi. Sayangnya banyak sampah berserakan dan jika kamu lihat ke bawah ugghhh di rangka baja jembatan sampahnya numpuk. Kesadaran masyarakat sini masih kurang, buang sampah kok dilempar lewat jembatan. Nanti saya tunjukkan tumpukan sampah lagi.yang lebih gede.


Perjalanan lanjut mengitari area persawahan yang sudah pernah saya lewati sebelumnya. Dulu nemu jalur ini juga dari hasil iseng zoom in zoom out Google Map. Masuk ke desa Kanigoro sampai perempatan terakhir lalu belok ke kiri ikuti jalan lurus membelah sawah. Jalannya hening dan sepi kanan kiri sawah menghijau. Di kejauhan terlihat indahnya Gunung Geger Pagak. Mood swing dan saya pengen ke sana. Saya kayuh sepeda agak cepat sambil menyerap semua pemandangan indah yang disuguhkan melewati Jembatan Aviat sekali lagi. Saya toleh ke kiri melihat tanggul Sengguruh, mood swing again dan penasaran apakah jalan tersebut bisa dilewati. Let's Go nuntun sepeda naik ke atas tanggul dan dari atas tanggul ternyata ada jalan. Berputar-putar sebentar di atas tanggul lalu turun ke arah Bendungan Sengguruh dan menemukan gunung sampah.

Sampah sebanyak itu terbawa arus dan berhenti di Bendungan Sengguruh. Sampah-sampah ini tiap hari dikeruk agar tak menyumbat aliran air. Nggak heran kalau sekarang bendungan ini mengalami pendangkalan, sampahnya banyak banget omaigad. Perjalanan saya lanjutkan untuk mengeksplor lebih jauh Bendungan Sengguruh. Oiya, kawasan ini adalah area terbatas jadi tak sembarang orang bisa masuk ( kecuali hari Minggu ). Keliling sebentar di perumahan spooky, jalannya cukup terawat dan banyak pepohonan di kanan kiri. Di gudang belakang ternyata ada kuburan truck warna kuning. Sayang banget tempat sebagus ini tidak dikelola sebagai tempat wisata. Ahh, entahlah malah berandai-andai.


naik tanggul

turun tanggul 

kapal pengeruk sampah

Abandon truck



Lanjut saya kayuh sepeda melewati tanggul, awalnya sih ragu. "Boleh melintas nggak ya?" tapi cuek saja lanjuuuutt gowes. Jalur atas tanggul ini rupanya mengarah ke PLTA Sengguruh yang ada di bawah. Kali ini saya tancap lurus naik ke atas melewati jalur tanah dan tembus ke PT Ekamas Fortuna.

Jalanan menanjak disepanjang Jl. Bendu nafas pun sudah ngos-ngosan. Entahlah, saya nyerah dan memilih putar balik ( another mood swing again ). Sampai di pertigaan Gampingan saya malah lurus ke barat ke arah Dempok. Pemandangan hijau disebelah kiri ini sangat menggoda, tak sadar saya sudah nyasar ke ladang tebu. Pengennya cari jalan yang bisa tembus ke Lembah Kera ehh saat tanya ke warga lokal katanya suruh balik karena ga ada jalan. Yaweslah back on the main road.

"Wisata Perkemahan Lemah Kera" sempat ingin mampir tapi karena sudah kebanyakan mampir-mampir ga jelas akhirnya saya ga jadi mampir. Lanjut genjot sepeda menyusuri jalan raya gampingan hingga sampailah di desa Tlogowaru. Jalanannya lumayan mulus dan sepi, meski ada beberapa meter jalan yang belum di aspal. Sempat mampir di Pura dan foto-foto di gerbangnya yang eksotis.

A post shared by Lila Soe (@djombie) on
Akhir dari jalan beraspal itu ternyata berujung pada jalan setapak yang membelah waduk. Tempat ini mungkin terkenal dikalangan para pemancing, saat ke sana tampak ada beberapa pemancing yang dengan sabar nunggu ikan. Pemandangannya indah sekali, landscape-nya hampir mirip dengan Danau Buyan di Bali. Gunung Kawi, Gunung Kelud sampai Gunung Semeru semua terlihat gagah di kejauhan. Tempat se-eksotis ini sayang banget kalau nggak dimanfaatin untuk pariwisata.


Setelah puas-puasin nge-wander dan merekam pemandangan yang ada di depan mata, perjalanan lanjut menuju pagak kota melewati Jl. Batu Putih. Sempat kepikiran untuk mengitari waduk Karangkates melewati Jalan Nasional Kepanjen - Blitar, tapi karena jaraknya terlalu jauh jadi pilih yang dekat yaitu mengitari Gunung Geger. Hari itu matahari sudah cukup terik dan jalanannya ternyata menanjak tiada tara. Demi mencari jawaban atas rasa penasaran mau nggak mau harus jalan terus. Mengayuh sepeda pelan-pelan bahkan saking nanjaknya sampai harus nuntun. Berhenti sejenak di pinggir jalan di bawah bayangan rindangnya pohon asem. Menikmati sepoi angin yang membuai peluh sambil mengatur nafas. Masih separoh jalan untuk sampai ke rumah.
rehat pinggir jalan 
Tak terasa akhirnya sampai juga di Kecamatan Pagak, dari sini jalanan sudah mulai normal dan banyak bonusnya sampai ke Jembatan Sengguruh. Momen paling asyik itu saat meluncur melewati turunan Gunung Geger. I feeel freeeeee..........


Sumber Songo

Ngademin kaki
Mau pulang nanggung kalau nggak mampir dulu ke Sumber Songo, sebuah sumber yang terletak di desa Jenggolo. Mampir sebentar nggak ada salahnya. Sumber ini selalu ramai dikunjungi anak-anak kecil kalau siang hari sekedar untuk main air. Melihat jernihnya air sayang rasanya kalau nggak nyemplung. Huuhhh haahh akhirnya ketemu yang seger-seger setelah inget perjalanan nanjak tadi. When in doubt pedal it out! karena sepedaan adalah obat. Uummm besok besok kemana lagi ya? yang pasti harus muteri Gunung Geger lagi tapi dengan rute yang berbeda. Balas dendam sama tanjakan Jl. Batu Putih


Kamis, April 14, 2016

[2 DAYS, 1 NIGHTS] RANGER IJO Camping ke Panderman


Akhirnya setelah hampir 10 tahun, kaki ini berhasil menginjak puncak Basundara di Gunung Panderman lagi. Fisik memang sudah tak seperti dulu, namun semangat tetap membara. Hari itu saya berangkat berenam bersama rombongan Ranger Ijo. Kami adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu instansi tempat kami bekerja, ya, kami semua kebetulan bekerja di salah satu media online terbesar di Indonesia.

Penat akan rutinitas harian kami merencanakan camping ndek-ndekan, dan terpilihlah Panderman sebagai tempat pelarian kami. Akhir Januari 2016, curah hujan masih deras-derasnya dan kami tak gentar akan peringatan alam tersebut. Semua perlengkapan baik kelompok maupun pribadi sudah aman terkendali, kami tinggal berangkat saja.

Rabu, Maret 09, 2016

Hiking Santai ke 'Monkey Forest' Batu

Minggu adalah saat yang tepat untuk melepas penat. Janjian dengan salah seorang teman, Cak Dikin namanya. Kebetulan dia mau trail run ke Puncak Basundara Batu tanpa pikir panjang deal lah minggu selepas subuh berangkat menuju Batu.

Pukul 6 pagi sampai diparkiran dan kita berpisah, Cak Dikin lari aku jalan kaki nyantai sambil menikmati udara pagi. Titik temu kita ada di Latar Ombo. Perjalanan ini mengingatkanku saat camping bersama geng Ranger Ijo Januari lalu. Berenam niatnya muncak eh karena sudah kepayahan Dan malam akhirnya mendirikan tenda di Latar Ombo. Hujan badai kabut dan ga dapet pemandangan tapi kita dapat pengalaman. ITU yang penting!

Selasa, November 17, 2015

Ketika Coban Brues Airnya Mampet


Ketika ekspektasi tak sesuai dengan realita. Inilah yang kami lakukan saat dolan mencari keberadaan Coban Brues di rimbunnya belantara hutan. Coban Brues terletak di Dukuh Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Tempatnya masih berada di sekitar area wisata Bedengan. 

Senin, November 16, 2015

Dolan Dadakan ke Bromo dan Ranu Pane


Apa yang harus kamu lakukan ketika seorang teman dari jauh tiba-tiba mengontak dan kepingin ngajakin kamu buat ke Bromo secara dadakan? Dan dia pengennya naik motor trail pula? It happen to me. Cuma hitungan jam akhirnya deal keliling Bromo. Tau dong gimana bingungnya kamu mempersiapkan semua? Untungnya berbekal infotemen dapat kontak persewaan motor trail yang ternyata dikelola oleh teman sendiri.

Rabu, September 02, 2015

‘Orang Gila’ di Pantai Kondang Iwak Kabupaten Malang

Jangan bikin sumpek aku nanti jadinya ya gini, pergi tanpa tujuan dan berakhir nyasar di suatu tempat. Eh bukan nyasar sih, aku pernah ke tempat ini sekali kalau nggak salah di tahun 2009 dulu. ESCAPE, pengen pergi menyendiri ke suatu tempat untuk menelaah masalah-masalah yang sedang bergumul di kepala. Antara Pantai Ngliyep dan Pantai Kondang Iwak, layaknya menghitung kancing bingung mau kemana akhirnya diputuskan untuk ke Kondang Iwak.

Perjalanan kali ini juga karena disponsori oleh Corsa Tyre, beruntung banget bisa menang kuis dan mendapatkan ban luar untuk sepeda motor secara gratis. Momennya pas banget karena ban luar ‘mbak Mer’ sudah sangat tipis dan licin. Motor juga selesai di service lengkap, ganti skok, ganti kabel speedo, klep dll yang biayanya lumayan menguras kantong. Daripada ke Ngliyep yang jalannya sudah beraspal, kenapa nggak nyoba ke jalan gragal Kondang Iwak? Ceritanya ngetest ketahanan sepeda motor gitu.

Selasa, September 01, 2015

Smartfren 4G LTE Advanced Resmi Diluncurkan di Malang!

Selasa, 25 Agustus 2015

Lebih baik latepost daripada tidak ngepost sama sekali. Jadi minggu kemarin itu tim Blogger Malang kembali diundang sama Smartfren untuk hadir di acara peluncuran resmi Smartfren 4G LTE Advanced yang bertempat di Nashville. Acara grand launching Smartfren 4G LTE sudah diluncurkan pertama kali di Hotel Grand Hyatt, Jakarta pada 19 Agustus 2015 dan berkelanjutan di kota-kota lainnya.

Sebelum ke acara peluncuran, kita dari Tim Blogger Malang diajak dinner dulu di Hotel Aria Gajayana. Ketemu sama Bapak idola teman-teman nih ceritanya. Pak Cahyadi kali ini memperkenalkan Pak Harold, Chief Sales Officer dari PT Smartfren, Tbk.

Menikmati Senja Di Sebuah Gubug Pematang Sawah

Yap, aku harus belajar lebih 'endel' lagi dalam dunia maya. Sudah bertahun-tahun akun-akun socmedku dihinggapi sarang laba-laba. Saatnya bersih-bersih dan produktif lagi. You know what? kalau kalian sadar, pada kalimatku itu aku memakai kata pengulangan. Ngomong kok diulang ngomong kok diulang ulang ngomong kok diulang ulang? 

Kemarin sore saat mau ke tempat farewell party-nya mbak Nana di Bacem Bu Rita aku melenceng sedikit ke sepetak sawah di belakang perumahan Araya. Jalan setapak di pinggir jalan raya itu mengarahkanku ke sebuah petak sawah tak jauh dari Bacem Bu Rita. Melompati sungai berjalan di pematang sawah hingga sampailah pada sebuah gubug kecil tempat Pak Tani biasa istirahat.