Kamis, April 14, 2016

[2 DAYS, 1 NIGHTS] RANGER IJO Camping ke Panderman


Akhirnya setelah hampir 10 tahun, kaki ini berhasil menginjak puncak Basundara di Gunung Panderman lagi. Fisik memang sudah tak seperti dulu, namun semangat tetap membara. Hari itu saya berangkat berenam bersama rombongan Ranger Ijo. Kami adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu instansi tempat kami bekerja, ya, kami semua kebetulan bekerja di salah satu media online terbesar di Indonesia.

Penat akan rutinitas harian kami merencanakan camping ndek-ndekan, dan terpilihlah Panderman sebagai tempat pelarian kami. Akhir Januari 2016, curah hujan masih deras-derasnya dan kami tak gentar akan peringatan alam tersebut. Semua perlengkapan baik kelompok maupun pribadi sudah aman terkendali, kami tinggal berangkat saja.

Sabtu

Waktu keberangkatan ke arah desa Pesanggrahan Batu, molor hingga 1 jam dari jadwal yang ditentukan. Langit kota Malang tampak sendu mengantar keberangkatan kami menuju kaki Gunung Panderman. Hingga akhirnya kita sampai sekitar pukul setengah 5 sore. Kami tim Ranger Ijo berjumlah 6 orang. 2 orang yang pernah naik ke Panderman sebelumnya adalah saya dan Abel, sisanya Mbak Nana, Chimot, Guntur dan Mas Obing baru pertama kali menjejakkan kaki ke Panderman. Beruntung mereka tak ada yang rewel dan manja, semua semangat ’45!

Awal perjalanan terasa berat bagi Guntur dan Chimot. Belum juga sampai seperempat perjalanan wajah mereka terlihat pucat. Dua orang sahabatku ini mengalami apa yang dinamakan dengan perkenalan medan. Dengan sabar saya memandu Chimot memberinya semangat dan penjelasan tentang ritme berjalan. Ilmu yang saya dapatkan dari senior saat berkegiatan alam dulu saya salurkan ke sahabatku ini. ‘Alon alon asal kelakon’ setiap pendaki pasti memiliki ritme berjalannya sendiri-sendiri. Saya mah Cuma bisa jalan santai setapak demi setapak dinikmati sambil atur napas. Maklum badan ini sudah tak seperti saat masih muda dulu ( baca : dulu kurus sekarang gendut ).

Guntur yang sedari tadi diam saja sambil membawa tas carrier berisi tenda tampak makin berjalan gontai. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di pos pemantau di dekat sumber. Istirahat, menunggu hingga fisik kuat lagi sambil membuka bekal dari Lusi. Lusi sebenarnya mau ikut camping tapi ternyata ada keperluan mendadak, sebagai rasa bersalahnya dia membekali kami dengan 2 kotak martabak dan 1 kotak brownies coklat keju yg super endeus. Brownies Lusi ini seolah jadi energi tersendiri bagi kami berenam yang kelaparan.
Guntur ngos-ngosan

Mbak Nana dan Abel

Thank you Lusi bekalnya :)

Guntur, Chimot, Mbak Nana dan Mas Obing
Tak mau beristirahat terlalu lama kami pun beranjak dari Pos Pemantau. Senja datang tanda hari mulai gelap. Carrier yang tadinya dibawa oleh Guntur kini beralih ke Abel. Abel yang sudah pernah ke Panderman berjalan di depan dan akan menunggu rombongan di Latar Ombo. Mbak Nana meskipun banyak diam tapi masih semangat untuk melanjutkan perjalanan, begitu juga ketiga sahabatku yang lain. Sesekali kami bercanda dan merencanakan pendakian ke tempat-tempat eksotis di Indonesia.

Langit makin gelap, suara jangkrik bersautan, kami pun mulai mengeluarkan senter. “Sebentar lagi sampai, itu di depan sudah Latar Ombo” entah sudah berapa kali saya ‘membohongi’ kawan saya dengan kalimat itu. Sekitar pukul setengah 8 malam kami sampai di tempat Abel istirahat di Latar Ombo. Semua tampak kepayahan, maklum kami semua jarang olahraga. Malam itu ada sekitar 5 tenda berdiri di Latar Ombo. Setelah mempertimbangkan ini dan itu akhirnya kami mendirikan tenda juga di tempat tersebut. Kami meminjam tenda milik Mbak Aik waktu itu, tenda dome super besar dengan kapasitas yang bisa isi orang se-RT mungkin.

tenda yang nggelondang
Kopi hangat serta makan mie ‘bodo-bodoan’ menjadi menu kami malam itu. Senda gurau tak habis-habisnya kami lontarkan. Malam belum juga terlalu larut, terdengar suara desir angin yang membawa hujan di kejauhan. Kami yang semula duduk-duduk menikmati malam di luar tenda tampak semburat ketika rintik hujan mulai membasahi tanah Latar Ombo. Chaos! Amankan barang semua masuk ke tenda. Flysheet tak mampu menahan derasnya hujan malam itu, tenda pun bocor. Kami pun mencoba melapisi tenda dengan 2 jas hujan agar kebocoran tak terlalu deras.

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, pertama kalinya membawa sahabat-sahabatku naik gunung dan disambut hujan deras. Meski hujan kami tak murung, di dalam tenda kami malah makin akrab dan hangat. Kami memutuskan untuk tidur lebih awal karena paginya kami berencana untuk summit. Semula kami berencana akan bangun jam 4 pagi, tapi hujan rintik rupanya masih awet hingga kami semua terbuai untuk tetap terlelap di dalam hangatnya sleeping bag.

Minggu

Hujan sudah reda sekitar pukul setengah 7 pagi, kami keluar dari tenda dan disambut kabut pagi yang indah. Mas Obing yang dari semalam tampak hangover masih meringkuk manja di hangatnya tenda. Abel sudah ganteng dan menyiapkan kopi serta sarapan. Saya, Mbak Nana, Chimot dan Guntur masih dengan semangat ’45 ingin menginjakkan kaki ke Puncak Basundara Gunung Panderman.

Jadilah kami Cuma berempat melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dengan bekal separuh kotak brownies dari Lusi serta air mineral kami beranjak. Belum juga 10 menit kami berjalan, hujan kembali turun. Hujan tak menyurutkan semangat kami untuk sampai ke puncak. Berbekal jas hujan kresek warna ijo kami pun bergegas ( inilah cikal bakal nama RANGER IJO ). Belum juga kami sampai di Watu Gede, hujan turun semakin deras. Jalan setapak mulai berubah menjadi aliran air hujan yang deras, sesekali membawa hanyut cacing-cacing segendut jari kelingking.

hujan deras disertai angin kencang 

Naik gunung di waktu badai sungguh sangat mengesankan, saya jadi ingat pengalaman waktu turun dari Gunung Buthak dan Gunung Arjuna. Momen inilah yang ternyata sangat saya rindukan. Akhirnya bisa mengulangnya bersama sahabat-sahabat hebatku Ranger Ijo ini. Hal yang selalu saya ingat saat mendaki Panderman adalah Tanjakan Setan, entah sudah berapa kali saya melewati jalur tersebut di rentang waktu 2005-2009. Ketika saya melewatinya kembali saya lupa bagaimana rasanya, tak ada rasa lelah yang ada hanya nostalgia hingga akhirnya tanpa sadar kaki ini sudah menjejak di puncak. Saya pun kaget, kok cepat sekali tiba-tiba di puncak. Rupanya senda gurau bersama Ranger Ijo di perjalanan seolah menghapus lelah dan lupa akan Tanjakan terjal di depan mata. I Love You gaes.

Di Puncak Basundara sudah berdiri beberapa tenda, hujan deras disertai angin masih belum mau mereda. Kami disambut pasukan kera di Puncak Basundara. Panderman wajahmu kini sudah berubah, makin banyak tanah lapang untuk mendirikan tenda. Dulu seingatku puncak Panderman itu masih rungkut penuh dengan semak-semak. Alhamdulillah bisa menjejak puncak bersama sahabat-sahabat hebatku.

Tak mau berlama-lama di puncak, kami pun turun karena perut sudah keroncongan. Jam 10 matahari mulai menampakkan sinarnya. Aaahhh terima kasih semesta akhirnya kami bisa menikmati hangatmu. Selesai makan kami semua packing dan bersiap turun kembali ke peradaban dan rutinitas harian. Sampai ketemu di kisah camping ndek-ndekan selanjutnya.
brownies endeus dari Lusi 

suasana packing
mejeng dulu sebelum turun

Terima kasih Panderman telah menjadi guru pertamaku dalam dunia kependakian, salam lestari !

4 komentar:

  1. Uuuuu... Terharu rasane! Sik gak percoyo kita bisa sampe puncak di tengah hujan badai itu... Aku terutama, yang terkenal sebagai queen of drama dan manja. Kayak nggak percaya, ternyata justru tetap berdiri tegak sampai kembali pulang. Makasih ya rek... Kalian keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. berpelukaaaaannn.....aaooooo...
      siapkan fisik buat ke Ranu Kumbolo Mei mendatang ya kak Nana
      tak ada yang tak mungkin jika dilalui dengan niat dan semangat #isoiso

      Hapus
  2. jasik, cacing sakjari kelingking. macam cacing di bayem kemaren bukan?

    BalasHapus
  3. Kangen Kumbolo mbi....

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak