Kamis, Juni 19, 2014

Gowes Ekspedisi Candi Di Sekitar Malang #Letsgetsweat

Semua berawal dari kisah inspiratif salah satu kakak kelas yang mencoba pulang dari ibukota menuju Malang dengan cara tak biasa. Mancal naik sepeda selama kurang lebih 5 hari perjalanan, kisah inspiratifnya berhasil membuatku untuk melakukan hal serupa. Berhubung saya tahanan kota yang tak bisa kemana-mana ya mau gimana lagi let's explore Malang. Gara-gara aplikasi Endomondo Sport Tracker ini juga yang mendorong saya untuk menjelajah sejauh yang saya bisa.

Awal pertama mencoba track berangkat kerja dari Dodikjur ke Araya tapi lewat bandara Abdul Rahman Shaleh. Tracknya lumayan membakar kalori, berangkat pagi sekitar jam 6. Ini kali pertama mencoba track berangkat kerja dengan nylentang yang super jauh.
jalur plaur berangkat ke kantor

Jalur yang agak berat ketika ada di kawasan mau masuk asrama AU Abd. Rahman Shaleh. Jackpotnya setelah berhasil melewati daerah asrama, jalanan turun terus hingga ke Araya. Jalur dengan pemandangan yang indah melewati hutan tebu. Ahh kyopta ga sempet mengabadikan momen di daerah ini karena jalurnya turunan dan sepi jadi kalau berhenti lumayan membahayakan karena saya gowes sendirian. Cahaya matahari pagi yang mencoba menembus lebatnya tebu cuma bisa tersimpan dalam memori kepala. Sudah 3 kali saya melewati jalur tersebut hingga tulisan ini ditulis. 

Bukan ini sebenarnya yang mau saya utarakan, sekedar berbagi pengalaman gowes iseng saya yang mengunjungi candi-candi di daerah Malang. Sebagai pegawai kantoran bukan berarti kamu harus terjebak seharian di kantor bukan? Untungnya kantorku terasa seperti rumah sendiri, saya jarang pulang lho. Hidupku sudah seperti seorang backpacker saja, nomaden dan sering pindah-pindah. Pulang ke Kepanjen kalau Sabtu-Minggu, Senin hingga Jumat stay di Malang kadang tidur di rumah Raras Dodikjur dan seringnya tidur di kantor. Agar menjaga tubuh tetap fit, saya mulai membiasakan diri untuk bersepeda kemana-mana. Yuk dibaca keplauran saya mengunjungi candi-candi di sekitar Malang.

Candi Singosari: Selasa, 27 Mei 2014 bertepatan dengan libur Isra' Mi'raj kantor libur dan saya dapat tugas piket saat itu. Setelah sholat subuh sekitar jam 5 pagi nggak tau mau ngapain lagi dari kantor akhirnya saya berangkat gowes ke arah proyekan belakang perumahan Araya. Selama ada jalan saya yakin nggak akan kesasar dan ternyata jalurnya tembus ke Banjararum Singosari. Menyebrang jalur utama Malang-Surabaya dan lanjut menuju utara hingga sampai ke Candi Singosari. 

Sampai Candi Singosari matahari baru saja terbit

Masih terlalu pagi sehingga kawasan candi tersebut belum dibuka untuk umum hasilnya cuma bisa mengabadikan momen di luar pagar. Setelah dari sini lanjut kembali ke kantor karena harus bertugas, jalur yang saya ambil adalah jalur menuju bandara Abd. Rahman Shaleh. Lewat jalan Rogonoto hingga sampai ke desa Dengkol, cuma mengandalkan insting dan lihat petunjuk jalan seadanya akhirnya sampai di komplek asrama Angkatan Udara. Di jalan makadam ketemu pertigaan seperti gambar di bawah ini dan saya mengambil arah ke Karanglo.

pertigaan daerah asrama AU
Dari pertigaan ini jalurnya enak karena turunan terus hingga sampai kantor Araya. Udara pagi dan pemandangan yang disuguhkan juga bagus untuk memanjakan mata. Akhirnya sampai kantor tepat jam 8, mandi lalu kerja deh. Singosari Temple done! Inilah awal mula saya kepikiran untuk menyambangi candi-candi yang ada di Malang. Perjalanan masih berlanjut ....

Candi Jago: Selasa, 3 Juni 2014 setelah malamnya mempelajari jalur yang harus di tempuh lewat google maps, paginya setelah subuhan berangkat jam 5.15 menuju Tumpang menyambangi Candi Jago. Ternyata Tumpang itu lumayan jauh ya, jalur terjauh yang pernah saya tempuh setelah Kepanjen. Waktu yang saya butuhkan untuk sampai ke sana sekitar 1 jam setengah, maklum jalanan nanjak dan saya banyak berhenti di beberapa titik. 
jalur Araya - Tumpang
Sampai sana sama seperti kunjungan ke Candi Singosari, karena masih terlalu pagi kawasan candi masih ditutup. Mengabadikan momen sebentar lalu kembali pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Nah, yang selalu saya suka adalah ketika pulang karena jalur ngos-ngosan yang sudah saya tempuh waktu berangkat tadi berupa turunan. Hidup itu kadang naik kadang turun jadi nikmati saja. 
Candi Jago ditempa matahari pagi

sepedanya narsis bolehlah :)
Jalur pulang sengaja nggak nylentang karena harus mengejar waktu agar segera cepat sampai ke kantor. Menyempatkan diri mampir ke Wendit menyambangi kawanan monyet yang sedang diberi makan oleh warga sekitar. Setelah itu langsung lanjut masuk ke kawasan perumahan Araya. Sebelum itu saya sempatkan untuk mampir isi perut dulu, sarapan nasi pecel Bu Ning, istrinya Pak Ji. Sengaja mampir kesini karena nggak mau ngantri berjam-jam di Pak Ji. *recommended lecep 
monyet di Pemandian Wendit
sarapan pecel seharga 6rb

Candi Badut: Kamis, 5 Juni 2014, berangkat pukul 5.30 start dari Dodikjur menuju ke arah Tidar tepatnya di desa Gasek. Mumpung masih semangat jelajah candi, berangkat ke kantor ngambil jalur nylentang dengan tujuan kali ini adalah Candi Badut. Jalur yang sedikit membuat saya melambat adalah ketika dari perempatan Galunggung naik ke arah perumahan Tidar. Lumayan ngos-ngosan tapi selama ada niat dan tujuan pasti kuat.
Jalur Dodikjur-Tidar

Candi Badut disebut sebagai candi tertua di Jawa Timur, candi ini merupakan peninggalan Prabu Gajayana raja dari Kerajaan Kanjuruhan. Candi ini puncaknya sudah hilang dan menyisakan kaki penopangnya saja. Letak candi ini dekat dengan perkampungan penduduk sama dengan candi Jago di Tumpang. Seperti biasanya saya yang kepagian, karena itu kawasan candi ini masih tertutup untuk umum. 

Candi Bha-dyut
Setelah dari Candi Badut saya melanjutkan perjalanan menuju ke kantor Araya, lewat jalan Candi tembus ke Taman Merjosari. Mampir sebentar ke ruang terbuka yang baru diresmikan ini, sekedar melepas lelah dan menikmati kesibukan orang-orang di pasar Dinoyo. Lanjut jalan lewat jalan Gajayana menuju Suhat tembus pasar Blimbing hingga akhirnya sampai ke kantor Araya dengan selamat. Yeay, Candi Badut done! 

Stupa Sumberawan: Jumat, 6 Juni 2014. Mumpung masih onfire nggak afdol rasanya kalau tidak menyelesaikan ekpedisi #letsgetsweat ke candi ini. Tujuan kali ini adalah ke Stupa Sumberawan di desa Tirtomoyo Singosari. Selama masih ada mbah gugel saya rasa kita semua nggak akan kesasar, setelah malamnya mempelajari jalur lewat google maps akhirnya paginya saya berangkat menaklukkan jalur ini. 

Berangkat dari kantor sekitar pukul 05.30 menuju ke arah Singosari, ancer-ancernya adalah jalan Masjid masuk dan lurus terus ke arah Barat. Jalurnya wow banget deh, awalnya datar tapi lama-lama semakin menanjak dan menanjak. Kecepatan mengayuh sepeda sudah seperti kura-kura eh bukan bekecot mungkin. Alon-alon asal kelakon, ketika sampai di persawahan Subhanallah pemandangannya nggak kalah sama yang ada di Ubud Bali sana. Menengok ke kiri tampak gugusan Gunung Kawi hingga Panderman dengan gagahnya, menengok ke belakang Semeru menyapa dan yang membuat saya menengadah adalah gagahnya Gunung Arjuna tepat di depan saya. Someday saya akan menyambangi puncak Arjuna lagi, jadi teringat kenangan muncak setahun yang lalu. 


Jalur Araya - Stupa Sumberawan

Jalur pendek tapi cukup membuat saya ngos-ngosan, saking nggak kuatnya saya terpaksa menuntun sepeda. Dengkul rasanya mau copot, tapi untunglah tak semua jalurnya super menanjak. Harap maklum kalau lewat jalur ini saya akan banyak berhenti. Seperti yang saya gambarkan, jalur ini punya pemandangan yang indah.  
Gunung Arjuna menjulang dengan gagahnya
Setelah melewati persawahan dengan jalur yang menanjak sampailah pada perkampungan, kalau mau menuju desa Tirtomoyo belok ke kanan pada pertigaan pertama setelah itu belok kiri menanjak lewat SD pertigaan belok kanan turunan dan kamu akan melihat persawahan terasering. Sebelum sampai ke akhir jalan tanjakan tengoklah ke kiri hingga bertemu petunjuk seperti foto dibawah ini.
petunjuk ke Stupa Sumberawan
Menyusuri jalur setapak sepanjang 400 meter dipinggir sungai yang jernih. Jalur ini cuma bisa dilewati 1 orang jadi kalau berpapasan harus mengalah. Kalau ke desa itu orangnya ramah-ramah jadi jangan sungkan untuk menyapa para petani jika bertemu mereka. Sampai di kawasan Stupa Sumberawan saya cuma bisa berdecak kagum. Tenang sunyi sepi, sebuah kawasan yang pas banget dipakai untuk menyepi. Kawasan ini ternyata sudah buka, mengisi buku tamu di pos dan saya kaget ternyata saya adalah orang kelima dalam daftar buku tamu. Ternyata sejak kemarin malam sudah ada orang yang datang untuk melakukan semedi di tempat ini. Ketika ditanya sang bapak penjaga untuk keperluan apa saya datang? saya jadi bingung karena melihat keterangan para tamu yang lain datang kesana untuk semedi, nyekar dan kegiatan mistis lainnya. Saya cuma bisa ngisi keterangan dengan 'wisata'. 

Jalan-jalan sebentar menikmati keindahan surganya para bidadari ini. So far this is the best place untuk menenangkan pikiran, suatu saat saya pasti akan berkunjung ke tempat ini lagi. Tak lupa mampir ke sumber air untuk cuci muka, jujur tempatnya sedikit spooky tapi niat saya baik jadi nggak terlalu memikirkan yang macam-macam. Di kawasan ini ada DAM penampungan air yang terlihat menyeramkan, kolam airnya ditutupi tumbuhan hijau dengan air yang super tenang. Ternyata ada 2 kuburan wingit di dekat Stupa Sumberawan. Bisa bayangkan pagi-pagi sepi nggak ada orang dan disekitarmu keadaanya seperti ini. Sempet bulu kuduk berdiri tapi saya cuek saja. 

Dam Sumberawan yang menyeramkan

Stupa Sumberawan

Sumber Air 

'Mulat Sarira Angrasa Wani Rahayu' tulisan di Sumber Air ini

Dikelilingi hutan pinus
Mengeksplor kawasan Stupa Sumberawan sekaligus istirahat sebentar kira-kira selama 30 menitan, setelah itu lanjut balik ke kantor karena harus bekerja. Sampai di kantor sekitar jam 8an, masih ada waktu untuk mandi sebelum beraktifitas. Akhirnya Stupa Sumberawan done!

Sebenarnya perjalanan ekspedisi candi di sekitar Malang ini menyisakan satu candi lagi yaitu Candi Kidal yang letaknya di desa Rejokidal Tumpang. Tapi rasanya mau balik ke Tumpang lagi kok awang-awangen hehe next deh pasti bakalan ke sana. Kalau tau letak candi Kidal di Tumpang tau gitu pas menyambangi candi Jago dulu mampir bisa kan ya? aaahhh sudahlah kita simpan perjalan ke Candi Kidal di edisi selanjutnya. #letsgetsweat

2 komentar:

  1. Kami Tim Ekspedisi Candi Indonesia merencanakan penjelajahan peninggalan Singasari di Malang, terima kasih atas infonya. mungkin nanti kami butuh bantuan jika ke Malang :),

    salam peminat sejarah :),
    http://www.ekspedisicandi.com
    @ekspedisicandi

    BalasHapus
  2. salam kenal :)
    Silahkan jawil saya di twitter @djombie kalau ke Malang
    InsyaAllah siap membantu

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan jejak